Jika bertanya dimana kota Dumai, jawabnya adalah ada di Riau. Jika bertanya dimana delta Mahakam? Jawabannya ada di Kalimantan Timur. Tapi, kalau ditanya, dimanakah Amamapore?
Mungkin tidak semua orang bisa menjawab langsung pertanyaan ini. Tapi yang pasti daerah tersebut masih berada di negara kita tercinta, Indonesia. Ya, Amamapare merupakan nama pelabuhan yang ada di Papua. Letaknya berada di pinggir sungai dan berada sekitar 10 km dari laut Seram
Mungkin pelabuhan itu dulunya tidak berarti, karena dulunya daerah tersebut masih perawan dan penduduknya masih belum mengenal alat-alat tambang mengerikan seperti sekarang. Hingga pada akhirnya, tahun 1935 beberapa orang ahli minyak bumi bernama Colijn dan Dozy berhasil menemukan salah satu harta karun milik Indonesia di Pulau Papua dalam ekspedisinya.
Harta karun tersebut berupa endapan tembaga terbesar di dunia yang berada di atas permukaan. Bila diibaratkan dengan analogi cerita perompak atau bajak laut, tembaga ini merupakan harta karun yang dicari-cari dengan susah payah, namun perbedaanya lokasi tersebut tidak berada di dasar laut seperti cerita-cerita dongeng, melainkan berada di permukaan yang tersimpan dalam bentuk Gunung. Gunung ini dinamakan Gunung Bijih yang nantinya menjadi menjadi cikal bakal Erstberg.
Dozy berpikir bahwa walaupun gunung bijih ini memiliki kadar tembaga yang tinggi, tetapi daerahnya sangat sulit dieksploitasi karena lokasinya yang ekstrim dan berada di atas gunung. Setelah itu, seorang geologist bernama Forbes Wilson melakukan ekspedisi lebih lanjut tentang gunung bijih. Ekspedisi tersebut membuahkan hasil. Wilson beranggapan bahwa daerah ini merupakan surga geologi. Mineralisasi tambang gunung bijih merupakan hasil ubahan metasomatisme hidrotermal dengan mineralisasi tembaga yang tiada taranya. Wilson benar-benar terkagum-kagum karena laporan ekspedisi Cozy itu benar adanya.
Gunung Bijih memiliki kadar mineral besi 40-50% yang terkandung dalam mineral magnetic dan oksida besi. Kandungan tembaganya 3% berupa kalkopirit dan bornit. Keberhasilan ekspedisi Wilson pada tahun 1960 ini merupakan lembaran awal sejarah PT Freeport Indonesia (PTFI) yang dirintis mulai 1967.
PTFI ini merupakan anak dari Freeport Mc Moren yang berasal dari Amerika. Ekplorasi dan Eksploitasi terhadap gunung bijih terus dilakukan. Jalan dibuka dengan cara menebang hutan secara sporadis. Daerah yang perawan itu sekarang sudah tidak perawan lagi karena telah dirusak oleh alat-alat berat milik Freeport.
Tidak berhenti hanya di situ, ternyata, 1 km dari Erstberg, masih ditemukan harta yang jauh lebih besar. Namanya adalah Gunung Bijih Timur yang memiliki kandungan tembaga jauh lebih besar dari Erstberg. Namun perbedaannya, lokasi mineral bijihnya berada di bawah permukaan.
Papua kaya? Iya, tapi tidak sampai di situ saja, masih ada lagi setelah gunung bijih timur. Namanya adalah Grasberg.
Pada awalnya saja, daerah Grasberg ini dieksploitasi dengan cara yang illegal alias belum disetujui. Lihatlah, betapa serakahnya manusia-manusia di bawah naungan perusahaan Amerika itu. Tambang yang satu belum selesai produksinya, tetapi sudah menggali di tempat lain. Mungkin ini bukan menjadi masalah kalau daerahnya adalah New York, Washington, ataupun tempat-tempat lain di Amerika Serikat sana. Tetapi, yang menjadi pertanyaan adalah.. Papua itu milik siapa? Milik Indonesia? Tapi kenapa tambang-tambang yang ada di Papua itu dikuasai bukan oleh Pemerintah Indonesia? Memang namanya adalah PTFI (PT Freeport Indonesia) tetapi ternyata menurut berita yang dimuat di Merdeka.com, 80% keuntungan hasil tambang adalah milik Freeport Mc moreen, sedangkan Indonesia hanya memperoleh 20% saja dan itu masih harus dibagi dua antara Pemda Papua dengan Pemerintah Indonesia.
Kenapa harus seperti ini? Kan Papua itu milik Indonesia, kenapa 80%nya bukan untuk Indonesia ?
Alasannya adalah alat-alat konstruksi dan lain sebagainya adalah milik mereka. Penemunya juga bukan orang Indonesia, jadi jangan bertanya kenapa regulasinya sesuai keinginan mereka. Mungkin hal itu benar, tapi Papua tetaplah milik Indonesia dan penduduk Papua ikut merasakan dampak buruk kehadiran Freeport di pulau mereka. Jangan salahkan penduduk setempat jika harus ada tragedi tembak-menembak. Hal ini tentu saja berkaitan dengan kesenjangan yang ada di sana.
Tentu saja, Erstberg, gunung Bijih Timur, dan Grasberg itu belum semuanya. Papua pasti memiliki kekayaan yang lain. Dan inilah alasan kenapa orang luar sana begitu bernafsu untuk menguasai daerah kaya di Indonesia.
Papua miliki Indonesia?
Kata siapa?
Buktinya jika ada sumber daya alam baru yang ditemukan jatuhnya tetap saja pelopornya adalah perusahaan asing. Memang sulit untuk mengubah sesuatu yang terjadi. Seandainya saja Amamaprare tidak ada, tentu saja para penjajah itu tidak bisa memasukan alat-alat konstruksinya ke dalam Papua. Tapi mengeluh bukanlah pilihan, yang bisa dilakukan adalah tetap mengawasi, menjaga, dan mengelola wilayah-wilayah prospek yang berada diwilayah lainnya. Jangan sampai kita kemalingan berkali-kali. Betapa bodohnya kita jika hanya memfokuskan kepada sesuatu yang diambil dan melupakan apa yang masih dimililki.