CICI SUCI MAULINA
Tak kan ada habis habisnya berbicara mengenai energi. Baik
dalam hal pengelolaannya, penggunaannya, dan kebijakan yang ada di
dalamnya. Energi fossil akan segera habis? Minyak di Indonesia akan
segera kering? Berganti gaya hidup dengan energi terbarukan? Sistem
manajemen dan kebijakan yang merugikan di bidang Migas? Migas kita
dikuasai asing? Terjadi disparsi pemegang kekuasaan di tubuh perusahan
Migas Indonesia? Dan pertanyaan pertanyaan ganjil lainnya mengenai carut
marut masalah di bidang energi kita.
Pada
kali ini saya akan membahas mengenai sedikit ilmu yang sudah saya dapat/
tangkap dari acara deklarasi dan orasi “Menggugat Kedaulatan Energi di
Indonesia”, yang diselenggarakan oleh Federasi Serikat Pekerja Pertamina
Bersatu (FSPPB). Ada beberapa hal yang sedikit- banyak telah menambah
informasi dan pengalaman dari pelancongan saya dan kawan kawan KKE
(Komite Kedaulatan Energi UGM) ke Jakarta, 18 Maret 2013 kemarin.
Berawal
dari stasiun Tugu Yogyakarta, kereta api “Senja Utama” membawa aku-
Biologi, Phisca- ELINS, dan David- Fisipol yang berada di bawah naungan
organisasi Komite Kedaulatan Energi UGM .. untuk beranjak meninggalkan
Yogyakarta menuju kota Pak presiden SBY berada. Perjalanan selama 8 jam
mengantarkan kita bertiga menuju stasiun Senin, Jakarta Pusat. Di pagi-
pagi buta pun kami berjalan kaki menyusuri sepinya kota Jakarta yang
masih tidur lelap, menuju hotel Lumire tempat Pak Ari – orang pertamina
yang menjadi PJ tamu KKE.
Kami pun disambut
hangat oleh beliau dan kemudian saling mengobrol mengenai masalah energi
di negeri ini, kami pun menjadi tahu kenyataan bahwa yang membedakan
perusahaan migas kita dengan perusahaan migas swasta/ asing adalah dalam
segi manajemennya. Perusahan migas kita, katakanlah PERTAMINA masih
dibagi- bagi menjadi beberapa banyak sektoral dan belum bersatu
sepenuhnya dalam hal kerja sama antara bagian produksi dan pemasaran.
Sebutlah pertamina hulu dan hilir. Padahal perusahaan perusahan besar
dunia sudah berinisiasi untuk saling meleburkan diri antara bagian yang
memegang hulu dan bagian hilirnya. Contohnya saja : Exxon yang menguasai
kegiatan di bagian hulu (explorasi) bekerjasama dan meleburkan diri
bersama Mobil yang menguasai kegiatan di bidang hilir (pemasaran produk
migas), sehingga terbentuklah ExxonMobil. Begitu juga dengan Total Fina
yang melakukan merger dengan Elf Aquitaine menjadi Total Fina Elf.
Pembagian pertamina menjadi beberapa sektoral inilah yang memperlemah
kompetisi antara perusahan migas negeri dengan perusahan migas luar yang
bersatu lebur membentuk satu kesatuan yang nota bene menjadi kuat.
Secara logika saja, risiko dan tantangan yang tinggi dan penggunaan
teknologi yang canggih di bisnis migas ini jika dikerjakan oleh 2 badan
yang bersatu padu, pasti akan menjadikannya kuat dan tak kan goyah
diganggu pihak lain, begitupun juga halnya dengan perusahan migas negeri
ini, jika mereka bisa meleburkan diri menjadi satu dengan manajemen
yang baik, bisa jadi tak kan ada yang bisa mengambil alih energi kita
dan tak kan ada lagi yang mempermainkan energi kita.
Itu
adalah satu informasi yang kudapat dari beliau mengenai sistem
manajemen yang perlu diperbaiki oleh perusahaan migas negeri ini.
Selanjutnya, sekitar jam 09.00 kami berangkat ke WiPerti (wisma
Pertamina) bersama bapak bapak Pertamina. Di sana sudah ada banyak orang
berkumpul berdiskusi mengenai acara orasi yang akan dilaksanakan di
Tugu Proklamasi.
Tanpa menunggu waktu,
sekitar jam 10 an, kami terjun ke Tugu Proklamasi untuk bergabung
bersama sama mahasiswa HMI, KAMMI, BEM, dan lainnya. Para tamu yang
hadir antara lain adalah : serikat pekerja LNG Bontang, serikat pekerja
Chevron, serikat pekerja Pertamina, habib dari Jawa Timur yang memimpin
doa acara kali ini, dll.
Acara pertama dimulai dengan pembukaan lalu dilanjutkan dengan menyanyikan lagu wajib Indonesia Raya, serta doa pembuka.
Berlanjut acara selanjutnya adalah sambutan yang disampaikan tegas oleh presiden FSPPB dengan inti sambutan beliau adalah membeberkan mengenai banyak fakta bahwa energi kita dipermainkan asing! Diantaranya adalah :
- Permasalahan blok Mahakam yang kontraknya akan diperpanjang .. beliau menyebutkan bahwa jatuhnya blok Mahakam ke tangan asing sama saja dengan menguntungkan pihak asing, karena mereka setiap harinya bisa menarik 2 triliun rupiah ke luar dari hasil blok mahakam. Benar, bahwa resiko migas sangat besar, tapi membiarkan blok Mahakam yang ada di depan mata dikuasai asing. Ikhlas?
- Panas bumi ? sekarang tidak punya direksi .. padahal panas bumi kita 40% panas bumi dunia Lhoo..
- Banyuwangi dengan emas dan tembakaunya, jangan sampai disentuh asing juga.
- Beliau juga memperingatkan bahwa Pertamina adalah Badan Usaha Milik negara yang dimiliki oleh rakyat. 172 BUMN adalah milik rakyat.. jadi rebut kedaulatan kita dari tangan asing..
- Kaum muda apa yang harus dilakukan? à pikir dengan tegas dan bertindaklah cepat, jangan egois ... kerjalah di pertamina dan lakukan perbaikan.
- Peran media ? ayo bersatu ...
- Beliau menyatakan bahwa hari ini (18 maret 2013) adalah hari bangkitnya kedaulatan energi untuk anak Indonesia.
Sambutan
yang menarik dari pak presiden FSPPB mengingatkan dan merefresh ingatan
kita kembali mengenai kondisi energi Indonesia. Acara berlanjut pada
mengheningkan cipta dan dilanjutkan lagi oleh pemaparan kedaulatan
energi dari perwakilan Indonesia timur yang sekali lagi
mengingatkan bahwa Indonesia dalam kondisi terjajah. Tidak perlulah
menunggu VOC jilid 2, karena VOC jilid 2 itu sudah datang. Bedanya dari
VOC jilid 1 adalah bahwa VOC jilid 1 = bule, sedangkan VOC jilid 2 = penghuni bangsa (pemimpin dan penguasa). Beliau juga menasehatkan kaum muda Indonesia agar jangan sampai menjadi orang munafik di negeri saat sudah menjadi penguasa.
Pemaparan selanjutnya adalalah dari orang penting yang sudah terkenal dalam hal energi, beliau adalah bung Marwan batu bara yang
kali ini lebih berbicara mengenai kondisi blok Mahakam yang kabar
burungnya akan diperpanjang kontraknya di tahun 2017 mendatang.
Perpanjangan kontrak bisa saja adalah agenda tersembunyi yang bisa
berkaitan dengan potensi korupsi yang bakal terjadi. Ingat, bahwa 99%
orang orang yang bekerja di blok Mahakam adalah orang orang Indonesia.
Puad bawazir juga menyampaikan bahwa ada 3 cara untuk merebut kedaulatan energi :
- Dengan tangan --> merebut langsung
- Dengan lisan --> renegosiasi
- Dengan hati --> tidak melakukan apa apa, kita hanya diam menunggu dan sampai blok mahakam habis, baru kita merebutnya.
Setelah mendengar empat pemaparan berat dari orang orang yang hebat, tibalah saatnya paparan ringan/ hiburan dari teatrikal persembahan dari Universitas Negeri Jakarta.
Penampilan menarik dari deklamasi puisi dengan judul “Mata indonesia”,
”Rumahku Indonesiaku”, dan ”Masa Depan Indonesiaku”. Lalu dilanjutkan
dengan drama teatrikal yang bercerita mengenai impian sesungguhnya dari
masa depan migas Indonesia. Diawali dengan adegan para pekerja migas
Indonesia yang hanya bisa disuruh suruh oleh asing untuk terus mencari
minyak yang mulai habis, hingga pada akhirnya pekerja pekerja negeri itu
dengan berani menentang asing untuk berdaulat dengan energi negerinya
sendiri.
Acara puncak adalah orasi dari mahasiswa perwakilan tiap daerah.
Ada yang dari HMI, BEM, KAMMI, dan organisasi mahasiswa lainnya. Suara
lantang menggema di telinga menyerukan kedaulatan energi bangsa ini.
Mulai dari perwakilan mahasiswa Aceh, Riau, Jakarta, Makassar, Medan,
Semarang, dan Jogjakarta meneriakkan dan menyerukan satu hal yang
intinya sama, yaitu : menuntut kedaulatan energi Indonesia dan melakukan
nasionalisasi migas ibu pertiwi..
Berikut adalah isi "PROKLAMASI KEDAULATAN PENGELOLAAN ENERGI INDONESIA" :
Kami, Rakyat Peduli Pengelolaan Energi Indonesia, dengan ini menyatakan :
- Segala bentuk penjajahan pengelolaan energi oleh pihak asing harus dihapuskan dari bumi Indonesia melalui proses NASIONALISASI Pengelolaan Sumber Daya Alam Indonesia.
- Kemampuan Anak Bangsa dalam mengelola sentra operasi/ produksi strategis Energi Indonesia yang telah terbukti dan teruji adalah modal dasar untuk membentuk kedaulatan pengelolaan energi melalui Perusahaan Negara.
- Keterlibatan Pihak Asing dan Perusahaan Swasta Nasional sebagai mitra untuk mengelola bagian tertentu dari proses bisnis harus diyakini hanya dilakukan pada kegiatan yang terbatas dan tidak mengapuskan peran strategis perusahaan negara sebagai pemilik sekaligus pengelola/pengendali kegiatan energi Indonesia.
- Setiap keputusan pihak legislatif dan eksekutif terkait dengan pengelolaan energi wajib mempertimbangkan tekad rakyat peduli pengelolaan energi Indonesia ini, sehingga aspek ketahanan nasional semakin terbangun dan kesejahteraan rakyat Indonesia dapat ditingkatkan.
Dan pemaparan terakhir adalah dari bapak Qurtubi yang
menguatkan sikap bahwa sumber kerusakan terbesar energi kita bersumber
dari UU no 22 tahun 2001, dimana UU ini berasal dari pemikiran orang
asing yang kemudian didukung oleh negara. Dan dari UU ini merembet pada
pembubaran BP migas, dll nya. Perlu diketahui juga, bahwa kontrak
chevron (blok rokan) akan habis di tahun 2021, jangan diperpanjang lagi
dan rebut kembali! Memang dulu (30 tahun yg lalu) petronas belajar dari
Indonesia, tapi sekarang nyatanya Pertamina hanya seperlima dari
petronas. Tapi tidak mustahil jika nanti kita bisa menjadi 5 kali
petronas.. ayo rebut kedaulatan energi kita !!
Acara
selanjutnya adalah menyanyikan lagu wajib Padamu negeri yang ditutup
dengan doa. Dan tak lupa sebelum kami pulang lagi ke Yogyakarta, kami
abadikan foto2 kebersamaan kami saat di Jakarta, terutama saat di Wisma
Pertamina .. :)

wah, kalau ini saya hadir juga mas, apa lagi ada si david tu, anak medan, tidak terlupakan...
BalasHapussalam hangat saya kpd tman2 kelompok diskusi energi UGM
Taufiq Helmi, Presiden Mahasiswa Univ. Pancabudi.
si david blunder...
BalasHapushahahaha
Kedaulatan energi merupakan bagian program dari Pak Prabowo Subianto jika terpilih menjadi Presiden Indonesia 2014-2019. Jadi kedaulatan energi harus diimplementasikannya.
BalasHapus