Letak Strategis Indonesia
Indonesia merupakan negara yang luar biasa dan mungkin merupakan
salah satu negara yang dipilih oleh Tuhan YME karena memiliki miliayaran
barel minyak bumi, puluhan triliyun kaki persegi gas alam, ribuan juta
ton batubara. Hal tersebut belum termasuk sumber daya energi non-fosil
meliputi energi panas bumi (geothermal), angin, air, nuklir, biogas
dsb. Dari semua kenyataan tersebut akan muncil sebuah pertanyaan
sederhana dari semua masyarakat Indonesia “Apakah benar negara kita
sekaya itu, dan kemana larinya semua kekayaan tersebut”.
Posisi indonesia yang terletak diantara pertemuan tiga lempeng
tektonik dunia yakni lempeng australia, eurasia dan filipina. Karena
adanya sistem subduksi (tabrakan dari lempeng-lempeng tersebut) maka
menghasilkan deretan gunung api aktif yang kita jumpai di sepanjang
barat sumatra, selatan jawa, nusa tenggara dan memanjang ke utara hingga
ke sulawesi. Hal inilah yang menyebabkan Indonesia banyak terjadi
bencana geologi seperti gempa bumi, tsunami, letusan gunung berapi dan
tanah longsor. Menurut survei maping earthquake area by USGS (United States Geological Survey)
tahun 2007 diperoleh hasil bahwa disepanjang titik pertemuan lempeng di
Indonesia berpotensi besar untuk terjadi gempa bumi dan tsunami. Selain
itu banyaknya jumlah gunung berapi di Indonesia yang masih aktif yakni
83 (USGS,2001) membentang dari sabang-merauke. Namun dibalik
banyaknya potensi bencana alam di Indonesia tersebut ada sebuah faedah
yang luput kita syukuri. Mengapa demikian? Karena justru letak
indonesia di sepanjang jajaran gunung api dan tumbukan antar lempeng
tersebut mengakibatkan sistem cekungan migas, petroleum sistem (minyak,
gas, batubara), sistem endapan-endapan mineral ekonomis (emas, perak,
tembaga, lithium, uranium, nikel dsb-nya), sistem panas bumi
(geothermal) dapat terbentuk dan bekerja dengan baik. Oleh sebab itu,
tentang potensi bencana tersebut tidak harus mesti diratapi karena
dibalik itu ada anugerah yang diberikan Tuhan Yang Maha Esa.
Sesungguhnya dalam kitab suci Alquran surat Al Insyirah, ayat 5-6 Allah
SWT telah menjamin bahwa “dibalik segala sesuatu yang sangat sulit, maka sebenarnya akan terdapat hikmah dan kemudahan yang luar biasa”.
Permasalahan yang timbul sekarang ini adalah bagaimana kita bisa
menjaga, mengelola dan mempergunakan sebesar-besarnya untuk kehidupan
negara Indonesia yang tercinta ini.
Kondisi pemenuhan energi di dunia
Hingga saat ini semua negara yang ada di dunia masih menggunakan
bahan bakar fosil meliputi minyak, gas dan batubara untuk memenuhi
kebutuhan bahan bakar mereka. Hal itu dikarenakan bahan bakar fosil
merupakan bahan bakar yang cukup mudah dalam sistem pengolahan,
distribusi, mobilitas dan pemasaran. Itulah yang menyebabkan bahan bakar
fosil merupakan bahan bakar yang tidak dapat tergantikan hingga
sekarang. Banyak sekali penemuan dan riset untuk mengembangkan sumber
energi alternatif baru seperti panas bumi (geothermal), energi air, angin, nuklir dsb-nya. Namun progress
pengembangan energi-energi alternatif tersebut terutama di
negara-negara berkembang masih jauh dari kalimat membanggakan dan
menggembirakan. Hal tersebut dapat dimaklumi karena dibutuhkan teknologi
yang maju, mekanisme pasar yang baik, stabilitas ekonomi, politik yang
baik, serta fasilitas infrastuktur yang memadahi.
Sektor energi migas Indonesia
Kondisi perkembangan energi di Indonesia sendiri tidak kalah jauh
dibandingkan negara-negara berkembang lainya. Meskipun memiliki cadangan
energi yang besar (baik non-fosil dan fosil) namun ternyata belum
memberikan efek memuaskan bagi para penduduk Indonesia itu sendiri.
Mahal dan langkanya (di beberapa wilayah) bakan bakar minyak menjadikan
problem utama yang dikeluhkan oleh masyarakat. Hal itu sangat wajar
karena dengan kenaikan harga bahan bakar minyak nantinya juga akan
berimbas terhadap semua harga kebutuhan namun tanpa diimbangi oleh
peningkatan pendapatan untuk masyarakat.
Indonesia selama 50 tahun kedepan masih akan bergantung dengan bahan
bakar fosil untuk memenuhi kebutuhan energi. Hal tersebut tidak terlepas
karena beberapa kendala berupa teknologi, modal serta masih adanya
beberapa masalah regulasi dalam pengembangan pengusahaan energi, seperti
adanya tumpang tindih kebijakan dan kewenangan, serta penerapan
kebijakan fiskal. Tanpa bermaksud mengesampingkan pengembangan energi
alternatif non fosil, optimalisasi pengembangan potensi bahan bakar
fosil seharusnya tetap menjadi prioritas utama, mengingat potensinya
yang demikian besar. Terlebih pada tahun 2009 Badan Geologi Indonesia
telah mengumumkan revisi peta cekungan sedimen terbaru yakni sebanyak
128 cekungan. Sebelumnya pada tahun 1980 hingga 2009 jumlah cekungan
sedimen yang ada di Indonesia hanya berjumlah 60 cekungan dengan jumlah
cekungan yang dipastikan mengandung hidrokarbon adalah 22 cekungan.
Cekungan sedimen merupakan suatu data awal tempat ditemukanya
hidrokarbon. Dengan meningkatnya temuan cekungan sedimen yang cukup
signifikan diharapkan jumlah akumulasi hidrokarbon juga akan bertambah
besar. Bukan berarti permasalahan di sektor migas sangat sedikit, justru
sebaliknya. Dengan perkiraan cadangan migas dan batubara yang besar,
sudah dapat dipastikan permainan dari sektor hulu (eksplorasi, produksi)
hingga sektor hilir (distribusi, penyaluran, penentuan harga pasar)
akan berkembang. Keterbatasann modal, teknologi dan krisis mental sumber
daya manusia yang disinyalir menjadi kesempatan bagi para investor
asing untuk terus menggerogoti sektor migas di Indonesia. Walaupun hal
ini,tentu masih dapat kita perdebatkan lebih jauh
Permasalahan energi migas Indonesia
Untuk menemukan cadangan hidrokarbon terbaru diperlukan eksplorasi
secara besar-besaran oleh pemerintah. Pemerintah biasanya memberikan
kesempatan kepada oil company baik dari dalam maupun luar negeri. Hal ini bertujuan agar oil company lokal
juga mampu bersaing. Namun masalah yang banyak muncul hingga saat ini
adalah peningkatan intensitas eksplorasi yang tidak signikfikan.
Peningkatan ini tidak terjadi karena adanya banyak masalah di lapangan,
seperti izin survey lahan yang banyak ditentang oleh masyarakat. Seperti
salah satu contoh penentangan izin eksplorasi di daerah blok gunting
(jawa timur) yang dideterminasi memiliki cadangan migas yang besar.
Pemerintah seharusnya bisa melakukan upaya yang maksimal untuk ikut
membantu menanggulangi permasalahan ini. Peningkatan ekplorasi tidak
perlu ditanggapi dengan apatis dengan berbagai kekhawatiran bahwa negara
akan dirugikan, karena sesuai dengan UU No 22 Tahun 2001 disebutkan
bahwa “apabila kontraktor dalam proses eksplorasi menemukan cadangan
migas yang dinilai ekonomis maka pemerintah wajib mengembalikan biaya
eksplorasi, namun apabila kontraktor tidak menemukan cadangan yang
ekonomis maka pemerintah tidak akan mengganti biaya eksplorasi tersebut”.
Hal tersebut sudah jelas bahwa pemerintah tidak mungkin dirugikan dalam
kegiatan eksplorasi ini. Yang dibutuhkan hanyalah meningkatkan dukungan
sepenuhnya agar ekplorasi dapa terus naik.
Keterbatasan teknologi dan modal merupakan kendala yang dimiliki oleh
setiap negara berkembang untuk melakukan eksplorasi dan eksploitasi.
Langkah ini bisa disiasati pemerintah untuk memacu investasi dari negara
lain. Keuntungan dari investasi ini selain menambah devisa untuk negara
juga dapat memacu kontraktor lokal untuk berkembang dengan cara
melakukan kontrak kerjasama. Bagaimanapun juga kita harus dapat berfikir
secara realistis dan rasional, bukan dengan berfikir bahwa investor
asing akan mengeruk kekayaan kita secara besar-besaran. Dengan bersikap
bijaksana dan menerapkan positive thinking dengan cerdas justru
kita dapat mengambil ilmu dan kelebihan yang tidak dimiliki oleh
kontraktor-kontraktor lokal. Pemerintah juga berkewajiban untuk menjaga
stabilitas ekonomi, politik dan sosial sehingga para investor tidak akan
merasa dirugikan dan takut untuk menanamkan modal mereka
Hal terakhir yang menjadi dasar dari semua permasalahan adalah
mentalitas sumber daya manusia yang bekerja dalam bidang energi. Para engineer di bidang petroleum dari Indonesia dikenal sebagai orang-orang yang handal dan cerdas di kalangan profesional migas. Daya juang dan kemampuan para engineer ini
sudah tidak perlu lagi dipertanyakan. Sebut saja Andang Bachtiar
(Geologist yang bersuara vokal dan berani), Rudi Rubiandini (Wamen
ESDM), Awang Harun S (Kadiv Eksplorasi BP Migas/ahli tektonik dunia)
mereka bertiga adalah salah satu dari sekian banyak engineer bertaraf
internasional. Sudah tidak menjadi rahasia lagi bahwa seseorang yang
bekerja di bidang energi (migas, batubara) memiliki penghasilan yang
sangat besar ditunjang dengan fasilitas kehidupan lengkap yang semuanya
ditanggung oleh perusahaan. Apalagi jika bekerja di perusahaan asing,
iming-iming pendapatan besar menjadikan momok yang menggiurkan
dibandingkan bekerja pada perusahaan lokal. Hal sederhana yang
seharusnya bisa dilakukan oleh pemerintah adalah mengikat para
calon-calon worker muda yang masih mempuh studi di universitas.
Cara untuk “mengikat-nya” cukup simpel, berikan mereka beasiswa selama
mereka belajar, tarik langsung menjadi pegawai perusahaan migas
nasional, bekali mereka dengan rasa nasionalisme yang tinggi, berikan
mereka gaji tinggi, tunjangan hidup yang baik. Maka nantinya dunia mogas
Indonesia akan dipenuhi wajah-wajah pemuda cerdas dan memiliki rasa
nasionalisme yang tinggi.
Merdeka dunia energi Indonesia
Eksplorasi tanpa mengenal rasa lelah, dukungan pemerintah untuk
menjaga kestabilan ekonomi, politik dan sosial, keberanian pemerintah
untuk mendukung para mahasiswa dan calon-calon pekerja keras di bidang
migas, kesadaran para pejuang-pejuang muda untuk mengedepankan
kepentingan bangsa merupakan modal penting bagi dunia energi di
Indonesia
Selain itu dukungan pemerintah terhadap riset-riset dalam
menghasilkan energi non fosil harus perlu ditingkatkan dan membuat
sebuah sasaran dan proyeksi jelas dalam tahap jangka panjang. Segala
bentuk permasalahan di dunia energi pasti dapat terselesaikan dengan
baik, karena pada intinya Indonesia memang dianugrahi kekayaan alam yang
luar biasa. Hanya niat, usaha dan kesadaran nasionalisme yang harus
selalu dijaga dan ditempa hingga generasi mendatang. Optimis bahwa suatu
saat Indonesia bisa sebagai kiblat pemenuhan energi di dunia.
MAN JADDA WAA JADA…
Salam
Didit Putra Kusuma
Geologist, Pancasila, Merdeka


