Selasa, 23 Oktober 2012

Realistis, Berani dan Bijaksana: Pengelolaan Energi Indonesia

Letak Strategis Indonesia
Indonesia merupakan negara yang luar biasa dan mungkin merupakan salah satu negara yang dipilih oleh Tuhan YME karena memiliki miliayaran barel minyak bumi, puluhan triliyun kaki persegi gas alam, ribuan juta ton  batubara. Hal tersebut belum termasuk sumber daya energi non-fosil meliputi energi panas bumi (geothermal), angin, air, nuklir, biogas dsb. Dari semua kenyataan tersebut akan muncil sebuah pertanyaan sederhana dari semua masyarakat Indonesia “Apakah benar negara kita sekaya itu, dan kemana larinya semua kekayaan tersebut”.

Posisi indonesia yang terletak diantara pertemuan tiga lempeng tektonik dunia yakni lempeng australia, eurasia dan filipina. Karena adanya sistem subduksi (tabrakan dari lempeng-lempeng tersebut) maka menghasilkan deretan gunung api aktif yang kita jumpai di sepanjang barat sumatra, selatan jawa, nusa tenggara dan memanjang ke utara hingga ke sulawesi. Hal inilah yang menyebabkan Indonesia banyak terjadi bencana geologi seperti gempa bumi, tsunami, letusan gunung berapi dan tanah longsor. Menurut survei maping earthquake area by USGS (United States Geological Survey) tahun 2007 diperoleh hasil bahwa disepanjang titik pertemuan lempeng di Indonesia berpotensi besar untuk terjadi gempa bumi dan tsunami. Selain itu banyaknya jumlah gunung berapi di Indonesia yang masih aktif yakni 83 (USGS,2001) membentang dari sabang-merauke. Namun dibalik banyaknya potensi bencana alam di Indonesia tersebut ada sebuah faedah yang luput kita syukuri. Mengapa demikian? Karena justru  letak indonesia di sepanjang jajaran gunung api dan tumbukan antar lempeng tersebut mengakibatkan sistem cekungan migas, petroleum sistem (minyak, gas, batubara), sistem endapan-endapan mineral ekonomis (emas, perak, tembaga, lithium, uranium, nikel dsb-nya), sistem panas bumi (geothermal) dapat terbentuk dan bekerja dengan baik. Oleh sebab itu, tentang potensi bencana tersebut tidak harus mesti diratapi karena dibalik itu ada anugerah yang diberikan Tuhan Yang Maha Esa. Sesungguhnya dalam kitab suci Alquran surat Al Insyirah, ayat 5-6 Allah SWT telah menjamin bahwa “dibalik segala sesuatu yang sangat sulit, maka sebenarnya akan terdapat hikmah dan kemudahan yang luar biasa”. Permasalahan yang timbul sekarang ini adalah bagaimana kita bisa menjaga, mengelola dan mempergunakan sebesar-besarnya untuk kehidupan negara Indonesia yang tercinta ini.

Kondisi pemenuhan energi di dunia
Hingga saat ini semua negara yang ada di dunia masih menggunakan bahan bakar fosil  meliputi minyak, gas dan batubara untuk memenuhi kebutuhan bahan bakar mereka. Hal itu dikarenakan bahan bakar fosil merupakan bahan bakar yang cukup mudah dalam sistem pengolahan, distribusi, mobilitas dan pemasaran. Itulah yang menyebabkan bahan bakar fosil merupakan bahan bakar yang tidak dapat tergantikan hingga sekarang. Banyak sekali penemuan dan riset untuk mengembangkan sumber energi alternatif baru seperti panas bumi (geothermal), energi air, angin, nuklir dsb-nya. Namun progress pengembangan energi-energi alternatif tersebut terutama di negara-negara berkembang masih jauh dari kalimat membanggakan dan menggembirakan. Hal tersebut dapat dimaklumi karena dibutuhkan teknologi yang maju, mekanisme pasar yang baik, stabilitas ekonomi, politik yang baik, serta fasilitas infrastuktur yang memadahi.

Sektor energi migas Indonesia
Kondisi perkembangan energi di Indonesia sendiri tidak kalah jauh dibandingkan negara-negara berkembang lainya. Meskipun memiliki cadangan energi yang besar (baik non-fosil dan fosil) namun ternyata belum  memberikan efek memuaskan bagi para penduduk Indonesia itu sendiri. Mahal dan langkanya (di beberapa wilayah) bakan bakar minyak menjadikan problem  utama yang dikeluhkan oleh masyarakat. Hal itu sangat wajar karena dengan kenaikan harga bahan bakar minyak nantinya juga akan berimbas terhadap semua harga kebutuhan namun tanpa diimbangi oleh peningkatan pendapatan untuk masyarakat.
Indonesia selama 50 tahun kedepan masih akan bergantung dengan bahan bakar fosil untuk memenuhi kebutuhan energi. Hal tersebut tidak terlepas karena beberapa kendala berupa teknologi, modal serta  masih adanya beberapa masalah regulasi dalam pengembangan pengusahaan energi, seperti adanya tumpang tindih kebijakan dan kewenangan, serta penerapan kebijakan fiskal. Tanpa bermaksud mengesampingkan pengembangan energi alternatif non fosil, optimalisasi pengembangan potensi bahan bakar fosil seharusnya tetap menjadi prioritas utama, mengingat potensinya yang demikian besar. Terlebih pada tahun 2009 Badan Geologi Indonesia telah mengumumkan revisi peta cekungan sedimen terbaru yakni sebanyak 128 cekungan. Sebelumnya pada tahun 1980 hingga 2009 jumlah cekungan sedimen yang ada di Indonesia hanya berjumlah 60 cekungan dengan jumlah cekungan yang dipastikan mengandung hidrokarbon adalah 22 cekungan. Cekungan sedimen merupakan suatu data awal tempat ditemukanya hidrokarbon. Dengan meningkatnya temuan cekungan sedimen yang cukup signifikan diharapkan jumlah akumulasi hidrokarbon juga akan bertambah besar. Bukan berarti permasalahan di sektor migas sangat sedikit, justru sebaliknya. Dengan perkiraan cadangan migas dan batubara yang besar, sudah dapat dipastikan permainan dari sektor hulu (eksplorasi, produksi) hingga sektor hilir (distribusi, penyaluran, penentuan harga pasar) akan berkembang. Keterbatasann modal, teknologi dan krisis mental sumber daya manusia yang disinyalir menjadi kesempatan bagi para investor asing untuk terus menggerogoti sektor migas di Indonesia. Walaupun hal ini,tentu masih dapat kita perdebatkan lebih jauh



Permasalahan energi migas Indonesia
Untuk menemukan cadangan hidrokarbon terbaru diperlukan eksplorasi secara besar-besaran oleh pemerintah. Pemerintah biasanya memberikan kesempatan kepada oil company baik dari dalam maupun luar negeri. Hal ini bertujuan agar oil company lokal juga mampu bersaing. Namun masalah yang banyak muncul hingga saat ini adalah peningkatan intensitas eksplorasi yang tidak signikfikan. Peningkatan ini tidak terjadi karena adanya banyak masalah di lapangan, seperti izin survey lahan yang banyak ditentang oleh masyarakat. Seperti salah satu contoh penentangan izin eksplorasi di daerah blok gunting (jawa timur) yang dideterminasi memiliki cadangan migas yang besar. Pemerintah seharusnya bisa melakukan upaya yang maksimal untuk ikut membantu menanggulangi permasalahan ini. Peningkatan ekplorasi tidak perlu ditanggapi dengan apatis dengan berbagai kekhawatiran bahwa negara akan dirugikan, karena sesuai dengan UU No 22 Tahun 2001 disebutkan bahwa “apabila kontraktor dalam proses eksplorasi menemukan cadangan migas yang dinilai ekonomis maka pemerintah wajib mengembalikan biaya eksplorasi, namun apabila kontraktor tidak menemukan cadangan yang ekonomis maka pemerintah tidak akan mengganti biaya eksplorasi tersebut”. Hal tersebut sudah jelas bahwa pemerintah tidak mungkin dirugikan dalam kegiatan eksplorasi ini. Yang dibutuhkan hanyalah meningkatkan dukungan sepenuhnya agar ekplorasi dapa terus naik.

Keterbatasan teknologi dan modal merupakan kendala yang dimiliki oleh setiap negara berkembang untuk melakukan eksplorasi dan eksploitasi. Langkah ini bisa disiasati pemerintah untuk memacu investasi dari negara lain. Keuntungan dari investasi ini selain menambah devisa untuk negara juga dapat memacu kontraktor lokal untuk berkembang dengan cara melakukan kontrak kerjasama. Bagaimanapun juga kita harus dapat berfikir secara realistis dan rasional, bukan dengan berfikir bahwa investor asing akan mengeruk kekayaan kita secara besar-besaran. Dengan bersikap bijaksana dan menerapkan positive thinking dengan cerdas justru kita dapat mengambil ilmu dan kelebihan yang tidak dimiliki oleh kontraktor-kontraktor lokal. Pemerintah juga berkewajiban untuk menjaga stabilitas ekonomi, politik dan sosial sehingga para investor tidak akan merasa dirugikan dan takut untuk menanamkan modal mereka

Hal terakhir yang menjadi dasar dari semua permasalahan adalah mentalitas sumber daya manusia yang bekerja dalam bidang energi. Para engineer di bidang petroleum dari Indonesia dikenal sebagai orang-orang yang handal dan  cerdas di kalangan profesional migas. Daya juang dan kemampuan para engineer ini sudah tidak perlu lagi dipertanyakan. Sebut saja Andang Bachtiar (Geologist yang bersuara vokal dan berani), Rudi Rubiandini (Wamen ESDM), Awang Harun S (Kadiv Eksplorasi BP Migas/ahli tektonik dunia) mereka bertiga adalah salah satu dari sekian banyak engineer bertaraf internasional. Sudah tidak menjadi rahasia lagi bahwa seseorang yang bekerja di bidang energi (migas, batubara) memiliki penghasilan yang sangat besar ditunjang dengan fasilitas kehidupan lengkap yang semuanya ditanggung oleh perusahaan. Apalagi jika bekerja di perusahaan asing, iming-iming pendapatan besar menjadikan momok yang menggiurkan dibandingkan bekerja pada perusahaan lokal. Hal sederhana yang seharusnya bisa dilakukan oleh pemerintah adalah mengikat para calon-calon worker muda yang masih mempuh studi di universitas. Cara untuk “mengikat-nya” cukup simpel, berikan mereka beasiswa selama mereka belajar, tarik langsung menjadi pegawai perusahaan migas nasional, bekali mereka dengan rasa nasionalisme yang tinggi, berikan mereka gaji tinggi, tunjangan hidup yang baik. Maka nantinya dunia mogas Indonesia akan dipenuhi wajah-wajah pemuda cerdas dan memiliki rasa nasionalisme yang tinggi.

Merdeka dunia energi Indonesia
Eksplorasi tanpa mengenal rasa lelah, dukungan pemerintah untuk menjaga kestabilan ekonomi, politik dan sosial, keberanian pemerintah untuk mendukung para mahasiswa dan calon-calon pekerja keras di bidang migas, kesadaran para pejuang-pejuang muda untuk mengedepankan kepentingan bangsa merupakan modal penting bagi dunia energi di Indonesia
Selain itu dukungan pemerintah terhadap riset-riset dalam menghasilkan energi non fosil harus perlu ditingkatkan dan membuat sebuah sasaran dan proyeksi jelas dalam tahap jangka panjang. Segala bentuk permasalahan di dunia energi pasti dapat terselesaikan dengan baik, karena pada intinya Indonesia memang dianugrahi kekayaan alam yang luar biasa. Hanya niat, usaha dan kesadaran  nasionalisme yang harus selalu dijaga dan ditempa hingga generasi mendatang. Optimis bahwa suatu saat Indonesia bisa sebagai kiblat pemenuhan energi di dunia.

MAN JADDA WAA JADA…
Salam

Didit Putra Kusuma
Geologist, Pancasila, Merdeka

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

.

.